wisata hobby dan lingkungan hidup

Selasa, 05 September 2017

WISATA MELAKA 3 : JONKER WALK, MESJID KAMPUNG KLING, MENARA TAMINGSARI

Wisata Melaka - Kuala Lumpur yang lain :
Dari Bandung ke MelakaSungai Melaka, Porta de SantiagoJonker dan Masjid Kampung KlingMasjid Jamek dan Central Market,  Petronas Tower dan Bukit Bintang

Silahkan Klik Topik Lainnya :
Kegiatan Lingkungan dan Fakultas Teknik,  Wisata Padang Sumatra Barat,  Umroh Makkah Madinah,  Wisata Singapore,  Wisata Phuket Thailand,  Wisata Karimunjawa,  Wisata Malang Bromo,  Wisata Ende Flores,  Wisata Tidung Kepulauan Seribu,  Wisata Pangandaran,  Wisata BandungWisata Malang Batu,  Wisata Melaka Kuala Lumpur  Wisata Bogor

Pada pagi hari (Rabu 26 Juli 2017) kami sudah berkeliling mulai dari bangunan merah, Porta de Santiago, Museum Kesultanan Melaka dan sekitarnya. Bangunan-bangunan tersebut merupakan bagian dari Benteng Melaka yang dibangun oleh Belanda dan Inggris serta menjadi Pusat Pemerintahan pada masa colonial tersebut. Area benteng Melaka tersebut di batasi oleh sungai Melaka di sebelah Barat, parit pertahanan dengan lebar 5 meter dan dalam 5 meter sebagai pelindung benteng di sisi Utara dan Timur, serta laut atau selat Melaka di sebelah Selatan. Area perbentengan Melaka tersebut juga dilengkapi berbagai persenjataan seperti Meriam. Bagian kota Melaka lainnya adalah daerah terletak sebelah Barat di seberang sungai Melaka. Di seberang sungai Melaka tersebut merupakan daerah permukiman warga pada zaman dahulu, baik dari warga keturunan Tionghoa (Pecinan), India/ Pakistan maupun Melayu.
Jadi setelah lelah pada pagi harinya berkeliling di kawasan benteng Melaka, kami kembali ke hotel dan beristirahat. Siang hari selesai sholat Dzuhur kami kembali keluar dari hotel, kali ini tujuan kami adalah menyusuri sisi Barat kota Melaka. Untuk sampai kesana kami hanya perlu menyeberangi jembatan Tan Kim Seng, maka kamipun memasuki daerah pecinan (China Town)  yang terkenal yaitu kawasan Jonker.
Jonker Walk
Kawasan Jonker adalah kawasan Pecinan yang dipenuhi berbagai toko-toko, baik toko penjual sufenir, restoran, hotel atau penginapan serta toko-toko yang menjual makanan. Jalan-jalan di kawasan Jonker itu tidak lebar dan umumnya merupakan jalan satu arah. Bangunan-bangunannya banyak merupakan bangunan tua seperti bangunan-bangunan di kota-kota lain, seperti kawasan Pasar baru di Bandung, Kesawan di Medan ataupun kota tua di Jakarta. Namun bangunan-bangunan tersebut terawat dengan baik sehingga menjadi daya tarik wisata. Saat kami berada di Melaka hari rabu, kawasan tersebut tidak terlalu ramai, karena lokasi itu atau Melaka umumnya akan ramai pada saat akhir pekan. Untuk kawasan Jonker pada akhir pekan mulai hari Jumat sampai Minggu malah akan ditutup untuk lalu lintas kendaraan bermotor mulai sore sampai malam hari karena diselenggarakan pasar malam yang sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan.

suasana kota
Sekitar 300 meter menyusuri Jonker Street, sampailah kami di Masjid Kampung Kling. Mesjid ini terletak di jalan Tukang Emas yang masih berada di kawasan Jonker. Jalan Tukang Emas juga dikenal sebagai jalan Harmoni, karena di dekat masjid ini juga terletak Kuil Sri Payyatha Viyanagar Moorthi serta kuil Cheng Hoon Teng. Bangunan asli Masjid tersebut dibuat dari kayu pada tahun 1748 dan selanjutnya pada tahun 1872 diganti dengan bangunan beton. Masjid kampong Kling merupakan salah satu bangunan kuno di malaka yang saat ini masih dalam bentuk aslinya. Bangunan masjid merupakan perpaduan seni budaya Sumatra, China dan Melayu. Menara, kolam dan pintu gerbang masih dalam bentu aslinya seperti tahun 1872. Pemugaran masjid tersebut diselesaikan oleh pemerintah Malaysia pada tahun 1999.
Masjid Kampung Kling

Interior Masjid
Setelah puas berkeliling Masjid serta menunaikan sholat sunat 2 rakaat di Masjid tersebut, kamipun kembali menyusuri kawasan Jonker. Perut memang belum terlalu lapar untuk makan nasi, jadi kamipun coba untuk mencicipi makanan atau tepatnya minuman khas Melaka. Kamipun masuk ke salah satu restoran yaitu Jonker 88 Food Heritage. Kamipun memesan minuman dan beristirahat disana. Kami pilih minuman yang cukup menarik dan namanya unik, yaitu Baba Durian Chendol dan Mango Ice Kacang, yang harga masing-masing 5 RM semangkuk. Menu minuman yang lain misalnya : sagu gula Melaka, Nata de coco durian chendol, Baba ice kacang (memang gula Melaka merupakan oleh-oleh khas Melaka, gula aren), pemanis pada Durian Chendol dan Mango Ice Kacang juga dari gula Melaka. Di pasar-pasar, termasuk juga di toko-toko di Jonker gula Melaka banyak dijual sebagai oleh-oleh.
Mango ice kacang dan durian chendol
Di sepanjang Jonker kami juga masuk ke beberapa toko yang menjual berbagai sufenir untuk oleh-oleh. Kami membeli yang ringan-ringan, yaitu gantungan kunci, gunting kuku ataupun magnit kulkas yang dihiasi dengan berbagai Pernik-pernik yang menjadi ciri khas kota Melaka atau Malaysia. Seperti Bangunan Merah, Istana Sultan, Porta de Santiago, Melaka River Cruise.
Pukul 16.30 sore hari setelah sholat ashar di hotel kami kembali menjelajah kota Melaka. Di Melaka memang transportasinya yang kurang, dimana kalau bis kota mungkin hanya ada sekali setengah jam atau lebih sehingga untuk menjelajah objek wisata kebanyakan harus berjalan kaki. Namun untungnya kebanyakan tempat jaraknya dekat-dekat, disamping tersedia pedestrian yang bagus. Sore ini tujuan kami menuju tempat perbelanjaan atau mall. Mall yang besar di kota Melaka tersebut adalah Melaka mega Mall yang letaknya juga masih di jalan Merdeka dengan jarak dari Hotel atau Bangunan Merah sekitar 1 km.
Jadi kami berjalan menyusuri jalan merdeka arah selatan dan kemudian belok ke Timur. Sekitar 200 meter sebelum sampai di Melaka Mega Mall terdapat taman kota yang disebut Taman Bunga Merdeka Bandaraya Melaka. Di kompleks pertamanan tersebut terdapat Menara Tamingsari yang merupakan tempat untuk dapat melihat kota Melaka dari ketinggian. Untuk melihat Melaka dari ketinggian tersebut kita tidak perlu capek-capek naik tangga karena terdapat deck mekanis yang akan mengantar pengunjung ke puncak menara tersebut. Namun untuk dapat naik ke ketinggian tersebut harga tiketnya cukup mahal yaitu 40 RM per orang.
Menara Taming Sari


Taman Bunga Merdeka
Dari taman bunga merdeka kamipun memasuki Melaka Mega Mall. Kalau Mall ini meskioun cukup bagus dan besar, namun kayaknya sama saja dengan Mall-mall yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Di mall tersebut tersedia bermacam-macam toko, toserba serta food court. Paling tidak meskipun Melaka merupakan kota yang relative kecil, terdapat pusat perbelanjaan atau Mall yang modern.
Keluar Mall, di seberang jalan terdapat pasar yang menjual berbagai barang oleh-oleh atau sufenir serta berbagai restoran atau rumah makan. Pasar yang bersih meskipun merupakan pasar tradisional tersebut dinamakan Pahlawan Walk market. Di pasar tersebut kami kembali keliling-keliling dan membeli oleh-oleh. Disana banyak dijual berbagai sufenir seperti gantungan kunci, gunting kuku, kaos dan berbagai oleh-oleh lainnya, termasuk gula Melaka serta belacan (terasi) dan kue-kue tradisional.
Pahlawan Walk Market
Usai mengitari dan melihat toko-toko yang ada di Pahlawan Walk market, kamipun mencari rumah makan dan makan sore. Menunya gulai ikan dan nasi lemak dengan minuman jus lemon. Untuk makan berdua tersebut kami membayar sebesar 15 RM.
Kamipun berjalan kembali ke hotel. Saat itu sudah pukul 18.30, namun cuaca belum gelap karena waktu magrib di Melaka adalah sekitar pukul 19.00. Sebelum sampai di hotel kami melewati pangkalan perahu Melaka River Cruise. Meskipun perut masih kenyang, namun disana terdapat penjual minuman yang sedang popular di Melaka atau Malaysia, yaitu Coconut Shake yang merupakan campuran es puter dan kelapa muda. Kamipun membeli 2 gelas, dan membawanya ke hotel.
Coconut Shake
Malam hari cuaca di luar hotel mendung dan gerimis, jadi kami tidak keluar, disamping itu badan juga sudah cukup lelah karena seharian keliling-keliling kota Melaka. Jadi kami hanya beristirahat saja di hotel. Sekali-sekali kami duduk-duduk di balkon memandang pemandangan sungai dengan perahu wisatawan yang hilir mudik serta bangunan-bangunan dengan lampu-lampu yang bergemerlap.
Pagi hari kamis 27 Juli 2017, sebelum siap-siap cek out dan melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur, kami sempatkan kembali berjalan arah ke Jonker dengan menyeberangi jembatan Tan Kim Seng. Di sisi seberang sungai yang berhadapat dengan Bangunan Merah kami menemukan taman dengan hiasan mural yang indah. Taman tersebut dinamakan Dataran persahabatan Malaysia China. Dataran atau taman yang dibangun untuk memperingati enam ratus tahu kedatangan Laksamana Cheng Ho di Melaka yaitu pada tahun 1405.
Hiasan mural

--------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.