wisata hobby dan lingkungan hidup

Minggu, 09 Agustus 2015

WISATA MENYUSURI JEJAK BUNG KARNO DI KOTA ENDE , FLORES

Tulisan Sebelumnya :  JAKARTA ENDE VIA DENPASAR DAN LABUAN BAJO

Silahkan Klik Topik Lainnya :
Kegiatan Lingkungan dan Fakultas Teknik,  Wisata Padang Sumatra Barat,  Umroh Makkah Madinah,  Wisata Singapore,  Wisata Phuket Thailand,  Wisata Karimunjawa,  Wisata Malang Bromo,  Wisata Ende Flores,  Wisata Tidung Kepulauan Seribu,  Wisata Pangandaran,  Wisata BandungWisata Malang Batu,  Wisata Melaka Kuala Lumpur

Hari Rabu, tanggal 1 Oktober 2014, pukul 16.30, setelah menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan pada hari itu, cuaca di kota Ende masih sangat cerah, jadi masih ada waktu untuk berwisata menikmati keindahan kota Ende. Pak Syahrun Nur Rodja dari PLN Area Flores Bagian Barat, berbaik hati mengantar saya mengunjungi situs-situs bersejarah di kota Ende. Kamipun meluncur meninggalkan kantor menyusuri kota Ende.
Dari segi sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia Ende memiliki peran yang cukup penting, karena kota Ende adalah kota tempat Bung Karno diasingkan pemerintah kolonial antara tahun 1934 sampai tahun 1938. Tentunya maksud belanda mengasingkan Bung Karno agar pergerakan kemerdekaan Indonesia berhenti dan Bung Karno jauh dari para pengikutnya, namun selama 4 tahun diasingkan di Ende, Bung Karno mengisinya dengan mengajak para penduduk untuk berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Selama masa pengasingan di Ende Bung Karno merenungkan tentang Negara Indonesia yang dicita-citakan dan menyusun konsep dasar Negara Pancasila.


Suasana kota Ende


Segera saja kami meluncur menuju jalan Perwira yang merupakan rumah tempat kediaman Bung Karno selama pengasingan di kota Ende. Sayang sekali karena hari sudah sore, lokasi rumah pengasingan Bung Karno tersebut sudah ditutup untuk umum. Petugas penjaga rumah tersebut juga sudah pulang dan rumah, termasuk pintu gerbangnya terkunci. Jadi kami hanya bisa melihat rumah pengasingan tersebut dari luar. Menurut Pak Syahrun di dalam bangunan tersebut disimpan barang-barang peninggalan Bung karno seperti lemari, kursi dan meja yang dipakai beliau dahulu. Termasuk juga foto-foto Bung Karno, biola, tongkat kayu dan beberapa naskah drama yang disusun beliau dan dimainkan pada saat tersebut.

Rumah pengasingan Bung Karno
Jadi selama masa pengasingan di Ende tersebut Bung Karno tetap teguh berjuang untuk kemerdekaan Negara Indonesia. Tetap bergaul dan membina masyarakat. Termasuk juga menanamkan jiwa patriotisme kepada generasi muda dengan kegiatan-kegiatan belajar, serta kesenian seperti menulis dan mementaskan drama perjuangan. Menurut sejarah, di sela-sela waktunya Bung Karno merenungkan dan menyusun rencana tentang dasar Negara Indonesia nantinya saat kemerdekaan sudah diraih.
Perenungan Bung karno tersebut dilakukan di lapangan di bawah pohon sukun yang terletak dekat dermaga ende. Saat ini pohon sukun tempat bung Karno sering merenungkan dasar Negara (yang nanti menjadi pancasila) telah lama mati. Namun Pemda setempat menanam kembali pohon yang baru dan membentuknya hampir menyerupai yang asli.  Pada tempat tersebut juga dibangun patung Bung Karno yang sedang duduk.
Jadi setelah mengunjungi situs rumah pengasingan Bung Karno, kamipun menuju lokasi Taman Bung Karno tempat tumbuhnya pohon sukun yang bersejarah tersebut. Lokasi taman tersebut sangat asri dan bersih serta terawat. Karena sudah direnovasi oleh pemerintah. Sambil melihat pohon sukun dan patung Bung Karno, kami membayangkan delapanpuluh tahun yang lalu saat Bung Karno merenungkan dasar-dasar Negara dan berjuang demi kemerdekaan Indonesia di bawah pohon sukun tersebut.


Patung Bung Karno dan Pohon Sukun bersejarah


Puas menikmati taman yang asri serta melihat-lihat patung Bung Karno dan pohon sukun beersejarah tersebut, kami berjalan menuju dermaga Ende. Iya, untuk menuju dermaga, cukup ditempuh dengan berjalan kaki. Karena jarak antara Taman Bung Karno dengan lokasi dermaga hanya dipisahkan oleh jalan raya, hanya sekitar 200 meter. Jadi tidak sampai sepuluh menit berjalan kami sudah sampai di dermaga Ende.


Dermaga Ende dengan latar belakang Gunung Meja


Matahari sudah berada di ufuk Barat saat kami sampai di dermaga. Menjelang pukul 18.00. Sebentar lagi matahari akan tenggelam, jadi saatnya untuk melihat “sunset” atau tenggelamnya matahari di langit Barat. Banyak juga masyarakat kota Ende yang berada di dermaga menikmati pemandangan yang indah. Beberapa terlihat sedang memancing ikat. Kelihatannya mudah sekali mendapat ikan disini, sebentar-sebentar menarik kailnya, dan seekor ikan telah terpancing. Ada yang bersepeda atau berjalan-jalan. Mungkin juga diantara pengunjung tersebut ada beberapa “turis” seperti saya.

Sunset di pelabuhan Ende
Akhirnya sedikit demi sedikit mataharipun tenggelam di ufuk Barat. Sungguh pemandangan yang sangat indah, langit di Barat merah dengan matahari yang kekuning-kuningan. Matahari sedikit demi sedikit turun dan tenggelam di laut. Lebih-lebih jauh disana terlihat pulau Ende. Suasana pantai mulai gelap, namun penerangan disana cukup dengan mulai menyalanya lampu merkuri menghiasi dermaga dan jalan raya.

Acara terakhir kami hari itu adalah berjalan dan singgah di sebuah restoran atau “cafĂ©” yang memang banyak terdapat di pinggir pantai Ende. Kami memilih duduk di halaman, dipinggir pantai, sehingga dapat menonton deburan ombak yang bergemuruh, yang saling berkejar-kejaran dan memecah di pantai. Kopi hangat, pisang goreng dan beberapa kue kecil, cukup untuk mengisi perut kami sebelum kembali ke penginapan.

Pulau Ende jauh di tengah

-------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.