wisata hobby dan lingkungan hidup

Jumat, 23 Agustus 2013

MEMBUAT LUBANG BIOPORI DI HALAMAN RUMAH

Oleh  :  JONNY HAVIANTO


Silahkan Klik Topik Lainnya :

Kegiatan Lingkungan dan Fakultas Teknik,  Wisata Padang Sumatra Barat,  Umroh Makkah Madinah,  Wisata Singapore,  Wisata Phuket Thailand,  Wisata Karimunjawa,  Wisata Malang Bromo,  Wisata Ende Flores,  Wisata Tidung Kepulauan Seribu,  Wisata Pangandaran,  Wisata BandungWisata Malang Batu,  Wisata Melaka Kuala Lumpur

Bicara tentang lingkungan nih, khususnya tentang air. Teorinya air itu ada siklusnya yang disebut sebagai siklus hidrologi.  Siklus maksudnya prosesnya terus berulang. Misalnya kita mulai aja dari hujan yang jatuh di daratan. Lalu turun mengalir dan akhirnya masuk ke laut. Dari laut karena di panaskan oleh matahari maka airnya menguap , uap tersebut dihembus angin naik ke langit di atas daratan, karena dingin maka uap mencair dan turun di daratan. Begitu seterusnya berulang-ulang. Keadaan yang berulang terus itulah yang disebut siklus.
Idealnya air hujan yang turun di daratan ,mulai dari daratan tinggi atau pegunungan mengalir ke laut secara perlahan-lahan. Air hujan membasahi hutan-hutan, meresap ke dalam tanah. Pelan-pelan mengalir ke berbagai anak atau “cucu” dan “cicit” sungai. Maksudnya saluran-saluran atau parit-parit kecil. Lalu ke sungai yang lebih besar dan sampai kelaut. Jadi pada musim kemarau airnya masih ada dan dapat dimanfaatkan oleh manusia.


Namun karena alam dan hutan-hutan banyak yang rusak dan dijarah, maka air yang turun pada musim hujan langsung ngalir ke sungai. Jadinya banjirlah dan semua habis melanda dan menimbulkan bencana. Kalau musim kemarau dan gak ada hujan, bencana lagi. Kalau tadi bencana banjir, sekarang bencana kekeringan.
Ada langkah kecil yang sering dikampanyekan oleh pemerintah (selain yang besar-besar berupa penghutanan kembali dan sebagainya), yaitu membuat sumur resapan atau lubang biopori di halaman rumah. Di kota-kota seperti Jakarta atau daerah Bogor, jika orang-orang kompak membuat sumur resapan dan lubang biopori, maka berapa banyak air yang dapat disimpan. Tinggal kalikan dengan berapa juta rumah. Kalau di Jakarta ada satu juta rumah dan masing-masing punya satu sumur resapan, masing-masing sumur resapan bisa nyimpan 3 meter kubik air. Kan sudah 3 juta meter kubik air tersimpan. Lumayan, hasilnya mungkin bencana banjir bisa dikurangi.
Tapi okelah, ngajak jutaan orang untuk sama-sama buat sumur resapan dan lubang biopori kan susah. Apalagi kalau yang ngajak belum pernah nyoba. Namanya omong doang, rame-rame buat wacana dan tidak pernah dilaksanakan. Jadi kami coba dulu merealisasikan ide-ide besar (atau “kecil”  ?) tersebut.
Apa itu Sumur Resapan dan Lubang Biopori  ?
Sumur resapan atau infiltration well adalah lubang atau sumur pada permukaan tanah yang berfungsi untuk menampung air hujan atau air permukaan agar dapat meresap ke dalam tanah. Sesuai namanya ukurannya memang seperti sumur, yaitu diameter sekitar 1 meter dan kedalaman sekitar 3 meter. Sumur tersebut kemudian diisi batu-batuan, ijuk, geotextile agar dapat menyerap air. Air untuk pengisian tersebut berasal dari talang rumah. Sehingga air hujan yang turun tidak langsung mengalir ke selokan, namun masuk ke dalam tanah dan berfungsi sebagai persediaan air tanah pada musim kemarau.
Sedang lubang resapan biopori dimensinya lebih kecil dibandingkan sumur resapan. Dimensi lubang resapan biopori hanya dengan diameter antara 10 sampai 20 cm dan dalam sekitar 100 cm. Disebut lubang biopori karena di dalam lubang terdapat aktivitas organism seperti cacing, rayap dan fauna tanah lainnya. Fungsi lubang biopori selain untuk resapan air tanah juga akan menyuburkan tanah karena diisi dengan sampah organic.
Sekarang bagaimana cara kami merealisir ide sumur resapan dan lubang biopori tersebut ?
Rumah kami di Cileunyi kan berdiri di tanah yang berukuran lebar 10 meter dan panjang ke belakang 19 meter. Di halaman depan selain untuk carport, kami Tanami rumput dan pohaon mangga dan jeruk lemon. Alhamdulillah, tahun-tahun terakhir ini kami selalu panen mangga harus manis dari halaman sendiri. Serta jeruk lemon tinggal metik kalau mau buat “ice lemon tea”. Di halaman belakang juag ditanami rumput serta pohon belimbing yang juga sudah berbuah. Pernah ditanam pohon jeruk lemon, tapi mati karena tanahnya tidak bagus (bekas timbunan barangkal dan batu-batu yang masih tersisa).
Mau membuat sumur resapan kayaknya terlalu besar dimensinya, jadi sementara kami buat dulu lubang resapan biopori. Ini foto-foto dan metoda kami membuat lubang biopori tersebut.

Halaman belakang rumah


Ini fotonya halaman belakang rumah kami, ada rumput dan tanaman bunga. Pohon belimbing yang mulai berbuah. Serta lokasi pompa air.
Buat lubang dekat pohon belimbing


Buat lubang yang jaraknya sekitar 40 cm dari pohon belimbing. Ukurannya diameter sekitar 25 cm dan dalamnya sekitar 1 meter. Memang bentuknya agak kurang beraturan karena isinya bukan melulu tanah, tapi banyak batu-batu dan pasir bekas barangkal buangan. Menggalinya juga harus hati-hati jangan sampai memutus akar pohon belimbing. Jadi memang maksudnya supaya pasir dan batunya berkurang sehingga belimbing tumbuh lebih subur.
Diisi daun-daun mangga

Diisi dengan daun-daun yang dipadatkan, lalu dicampur dengan tanah. Daun untuk mengisi lubang biopori tersebut diambil dari pemangkasan pohon mangga harum manis yang ada di halaman depan rumah.
Manjat dan ambil daun mangga
Ngambil daun pohon mangga sekalian memangkas dan membersihkan pohon supaya pertumbuhannya baik. Daun-daun yang menempel ke rumah dikurangi dan dikumpulkan untuk dikuburkan pada lubang biopori.

Ditimbun daun dan tutup dengan conblock
Lubang biopori yang kami buat di halaman belakang rumah ada 2 buah. Yang satu di sebelah pohon belimbing. Yang satu sebegaimana terlihat, namun setelah daun-daun dipadatkan , ditimbun  dengan dengan tanah, lalu ditutupi dengan conblock. Gunanya sebagai penutup sehingga yang berjalan di rumput aman dan  tidak terperosok. Juga sebagai penanda tempat  lubang biopori.
Catatan Akhir
Conblock berfungsi sebagai penanda, penutup serta pengaman. Nanti setelah dua bulan, daun-daun yang ada di dalam lubang biopori akan berubah menjadi kompos. Jadi tanah disekitarnya akan jadi subur. Binatang-binatang seperti cacing, serangga dan rayap akan hidup. Air hujan juga akan dapat meresap ke tanah, jadi persediaan air tanah selama musim kemarau akan bertambah.
Selanjutnya volume daun yang berubah menjadi kompos berkurang, tiba saatnya lubang biopori tersebut bisa diisi kembali dengan daun-daun hasil pemangkasan. Jadi bisa bermanfaat ganda, tanaman yang ditanam seperti belimbing akan lebih subur. Pohon mangga dapat dipangkas sehingga jadi rapih, juga tidak sesulitan untuk nyari tempat membuang daun mangga. Dan jelas akan bermanfaat untuk menjaga kelestarian air.
Ini memang baru langkah kecil yang kami lakukan. Selanjutnya kami akan coba membangun sumur resapan agar makin banyak air yang dapat dihemat dan bermanfaat bagi lingkungan. Bagaimana dengan anda ? Mudah-mudahan kita bisa sama-sama menjaga lingkungan. Katanya kan bumi ini bukan warisan dari nenek moyang kita, tapi merupakan pinjaman dari anak cucu.
Terima kasih.
----------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.