wisata hobby dan lingkungan hidup

Selasa, 26 Juli 2016

WISATA GREEN CANYON, CIJULANG PANGANDARAN


Silahkan Klik Topik Lainnya :

Kegiatan Lingkungan dan Fakultas Teknik,  Wisata Padang Sumatra Barat,  Umroh Makkah Madinah,  Wisata Singapore,  Wisata Phuket Thailand,  Wisata Karimunjawa,  Wisata Malang Bromo,  Wisata Ende Flores,  Wisata Tidung Kepulauan Seribu,  Wisata Pangandaran,  Wisata BandungWisata Malang Batu,  Wisata Melaka Kuala Lumpur

Nama asli lokasi wisata ini adalah Cukang Taneuh, namun sangat dikenal secara luas sebagai Green Canyon yang asalnya dipopulerkan oleh seorang wisatawan berkebangsaan Perancis pada tahun 1993. Green Canyon terletak di desa Kertajaya, kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran. Tertarik dengan nama tempat wisata Green Canyon yang dikenal luas oleh wisatawan dalam negeri dan mancanegara, maka pada tanggal 19 Juli 2016 pukul 06.30 pagi hari, kami berempat, yaitu saya, istri beserta anak dan menantu meluncur dari rumah kami di Cileunyi ke Pangandaran.

Melaju di sungai yang indah
Untuk menuju ke wisata Green Canyon, setelah perjalanan Cileunyi melewati Nagrek, Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan masuk kota Banjar, perjalanan dilanjutkan menuju Pangandaran. Saat menjelang masuk ke pantai Pangandaran berbelok ke kanan atau arah Barat menuju Parigi yang merupakan ibukota kabupaten Pangandaran. Perjalanan dilanjutkan sekitar 30 km menuju kecamatan Cijulang.

Tulisan terkait : Dari Bandung ke Pangandaran , Melihat Sunset dan Sunrise di Pangandaran  Tempat Wisata Pangandaran  Cagar Alam Pangandaran  Wisata Green Canyon

Kami sampai di Pangandaran pada pukul 12.00 dan dilanjutkan ke Cijulang dan sampai di sana sekitar pukul 13.00. Dari terminal Cijulang lokasi Green Canyon hanya sekitar 2 km saja. Namun kami tidak langsung singgah di Green Canyon, namun melewatinya dan menuju ke kawasan Batu karas, karena kami merencanakan menginap di pantai Batu Karas tersebut. Jarak antara Green Canyon dengan batu karas sekitar 8 km, namun jalannya lebih kecil dan sebagiannya kondisi berlubang, jadi memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk menempuhnya.
Jadi kami check in dulu di hotel dan dilanjutkan makan siang di sebuah rumah makan yang berlokasi di tempat wisata tersebut. Selesai makan kami kembali ke lokasi wisata Green Canyon.


Gerbang Green Canyon
Cuaca cukup cerah ketika pukul 14.30 kami sampai di pintu gerbang Green Canyon. Memang karena cuaca siang tersebut cukup cerah (setelah pagi sampai siang cuaca bervariasi diselingi oleh mendung dan hujan ringan) kami memutuskan untuk segera ke tempat itu dan tidak menunggu esok hari. Karena memang menurut informasi serta saran dari pihak hotel tempat kami menginap, lebih baik sore ini berkunjung ke Green Canyon, mumpung cuaca sedang cerah. Karena kalau hari hujan, air di sungai Cijulang dan Green Canyon sering terlihat keruh dan tidak jernih, bahkan kalau hujan besar  kadang-kadang tempat wisata itu ditutup karena air sungainya selain deras juga berwarna kecoklatan dan tidak menarik.

Dermaga perahu
Lokasi dermaga untuk wisata tersebut terletak di pinggir sungai Cijulang serta juga dipinggir jalan raya. Di seberang jalan terdapat lapangan parkir yang luas yang dikelilingi oleh kios-kios penjual makanan dan cenderamata. Kamipun masuk dan membeli karcis naik perahu untuk menyusuri sungai Cijulang menuju lokasi Green Canyon. Karcis perahu motor adalah sebesar Rp 150.000, dan setiap perahu dapat dinaiki oleh maksimal 5 orang penumpang (selain awak perahu). Kalau di perjalanan menyusuri sungai atau di lokasi Green Canyon penumpang ingin berenang, maka dikenakan biaya tambahan untuk berenang sebesar Rp 100.000,-.
Kamipun naik perahu dan perahu mulai bergerak. Di perjalanan saya baru sadar bahwa kami tidak memakai baju pelampung, setelah melihat perahu lain melintas dan penumpangnya memakai baju pelampung. Kelihatannya di perahu kami juga terdapat baju pelampung, tetapi karena tidak ada SOP yang ketat, awak perahu tidak memberikan baju pelampung untuk dipakai. Mau menegur bagaimana, takut kalau ditegur malah akan ngadat. Apalagi perahu sedang melaju kencang, dengan sedikit ketar ketir sayapun diam-diam saja mengikuti perjalanan.
Sangat disayangkan, harusnya merupakan kewajiban pengelola tempat wisata untuk selalu mengawasi dan memastikan seluruh penumpang memakai baju pelampung. Saran saya kepada pengelola agar selalu memastikan setiap perahu berlayar mengikuti aturan keselamatan karena itu tanggungjawab mereka. Lucu kalau para pengunjung yang harus menegur , suasana wisata bisa jadi rusak karena orang ditegur kan biasanya kesal.

Air sungai yang jernih
Tulisan terkait : Dari Bandung ke Pangandaran , Melihat Sunset dan Sunrise di Pangandaran  Tempat Wisata Pangandaran  Cagar Alam Pangandaran  Wisata Green Canyon

Perahupun yang kami naiki melaju menyusuri sungai Cijulang menuju lokasi Green Canyon yang jaraknya sekitar 4 kilometer. Pemandangan di kiri kanan sangat indah dengan pepohonan yang rindang, serta air sungai yang jernih dan kehijauan. Sesekali kami berpapasan dengan perahu yang baru balik dari lokasi air terjun. Karena memang setiap perahu bertujuan menuju hulu sungai Cijulang yang merupakan lokasi air terjun. Di tempat itulah yang menjadi spot utama wisata Green Canyon.
Setelah berlayar sekitar 20 menit sampailah kami di lokasi tersebut. Menjelang lokasi tersebut pemandangan menjadi gelap karena kami melewati bagian sungai yang sempit dan terowongan dimana cahaya tidak dapat masuk. Selanjutnya sampailah di lokasi air terjun dengan cahaya yang muncul dari ketinggian air terjun.
Perahu parkir di tepi air terjun yang hanya setinggi sekitar 2-3 meter. Disitu pengunjung bisa turun dan naik ke tebing di tepi air terjun. Sebagian pengunjung juga bisa berenang di lokasi tersebut, baik di tepi sungai atau di bawah air terjun.

Terowongan
Air terjun


Terasa gemercik air serta tetesan air yang memercik hingga ke dalam perahu. Pemandangan yang sangat indah, di kejauhan ke hulu air terjun kecil sekitar jarak 100 meter terdapat air terjun yang tinggi yang sangat indah karena dari atasnya muncul cahaya. Berbeda denga lokasi perahu parkir (di hilir air terjun kecil) yang gelap, lokasi di hulu terlihat terang. Kebanyakan pengunjung turun dari perahu dan naik ke bukit di sisi air terjun mini, sebagian lain termasuk kami menunggu di perahu karena takut licin, menikmati indahnya pemandangan sekitar dari atas perahu.

Keindahan air dan tepian sungai
Setelah sekitar 20 menit kami singgah di lokasi air terjun, serta naik ke bukit di sisi air terjun, maka anak dan menantu kami pun kembali ke perahu. Mereka cukup puas melihat keindahan Green Canyon, mengambil foto-foto. Sementara kami tidak ikut karena batu-batu dan jalan ke air terjun cukup licin. Perahu layar kami memutar arah dan kembali berlayar menyusuri sungai kembali ke pangkalan atau dermaga Green Canyon. Kami sampai kembali menjelang pukul 16.00 atau menjelang tutup tempat wisata itu. Jadi memang waktu yang diperlukan untuk wisata sekitar 1 jam 20 menit, tanpa berenang. Kalau ditambah dengan berenang akan memerlukan waktu sekitar 2jam. Hal tersebut harus diperhitungkan karena tempat wisata tersebut tutup pada pukul 16.00. Oh iya, jadual lengkap tempat wisata Green Canyon adalah sebagai berikut : Hari Senin sampai Kamis pukul 07.30 sampai 16.00. Jumat : 13.00 16. Sabtu dan Minggu  pukul 07.00 sampai 16.00.


Kembali ke pangkalan
Alhamdulillah kami cukup puas menikmati keindahan wisata Green Canyon. Kecuali masalah baju pelampung, system pentaripan dimana biaya ditentukan sebesar Rp 150.00,- per perahu, dibayar di loket, tanpa tawar menawar lagi dengan awak perahu sangat baik dan memudahkan wisatawan. Namun di tempat parkir taripnya tidak jelas. Tidak ada loket atau gardu parkir seperti yang ada di mal-mal atau Bandara misalnya. Jadi taripnya hanya ngasih ke petugas dan tidak ada tanda terima. Saya nyari-nyari pengumuman berapa sebenarnya tarip parkir, tapi tidak ketemu. Mudah-mudahan penyelenggara dapat memperbaiki soal keselamatan (baju pelampung) dan tarip parkir sehingga pengunjung akan lebih senang datang dan pemerintah mendapat pemasukan yang lebih baik dari pariwisata.
-----------------------------------------------------------
Tulisan terkait : Dari Bandung ke Pangandaran , Melihat Sunset dan Sunrise di Pangandaran  Tempat Wisata Pangandaran  Cagar Alam Pangandaran  Wisata Green Canyon

Minggu, 24 Juli 2016

REVIEW WISATA CAGAR ALAM PANANJUNG PANGANDARAN

Silahkan Klik Topik Lainnya :

Kegiatan Lingkungan dan Fakultas Teknik,  Wisata Padang Sumatra Barat,  Umroh Makkah Madinah,  Wisata Singapore,  Wisata Phuket Thailand,  Wisata Karimunjawa,  Wisata Malang Bromo,  Wisata Ende Flores,  Wisata Tidung Kepulauan Seribu,  Wisata Pangandaran,  Wisata BandungWisata Malang Batu,  Wisata Melaka Kuala Lumpur

Pantai Pangandaran merupakan kawasan wisata terkenal yang terletak di Selatan Jawa barat. Pemandangan pantai yang indah dengan ombaknya, serta adanya lokasi untuk melihat matahari terbit (sunrise) dan matahari tenggelam (sunset) menjadi daya tarik bagi wisatawan dalam negeri dan mancanegara untuk berkunjung ke daerah itu.
Salah satu objek yang cukup menarik di Pangandaran adalah Cagar Alam Pananjung. Di kawasan Pananjung tersebut kita dapat berpetualang menyusuri sejumlah objek seperti batu Kalde. Jembatan, Pantai Pasir Putih, serta benteng pertahanan peninggalan tentara Jepang. Pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai hewan liar seperti rusa, biawak, monyet ekor panjang dan burung-burung laut.
Kami mengunjungi lokasi wisata alam tersebut pada hari Jumat tanggal 22 Juli 2016. Berikut adalah review tentang objek wisata alam Pananjung.




Pantai Barat dan Pantai Timur Pangandaran dipisahkan sebuah tanjung atau semenanjung yang menjorok ke arah Selatan. Bentuk tanjung yang cukup luas tersebut mirip paha ayam seperti yang ada di bagian Selatan pulau Bali. Pada tanjung tersebut terletak Taman wisata alam (Nature Recreation Park) dan Cagar Alam (Nature Reserve) Pananjung, yang merupakan  objek wisata dengan nuansa hutan, pantai dan laut.
Cagar alam Pananjung dapat dicapai dengan berjalan kaki, baik dari pantai Barat maupun pantai Timur karena lokasinya persis diapit oleh pantai Barat dan Pantai Timur. Selain berjalan kaki di dalam cagar alam, kita juga dapat mengelilingi semenanjung ini dengan menyewa perahu nelayan dan singgah di pantainya yang berpasir putih.


Peta Cagar Alam Pananjung


Kami sampai di pintu gerbang Cagar Alam sekitar pukul 06.45. Di loket belum ada petugas, namun tercantum jadual buka taman wisata, yaitu antara pukul 07.00 sampai 17.00. Pada pukul 07.00 petugas masuk ke gardu penjualan tiket, dan kamipun membeli tiket dengan harga Rp 16.000,- per orang.

Pintu Gerbang
Jalan masuk utama menuju taman terlihat kumuh dengan adanya gerobak-gerobak yang diparkir sembarangan, serta trotoar yang menjadi tempat penjemuran ikan. Saat masuk, di sisi kanan jalan terdapat kantor pengelola taman dengan halaman yang sangat bersih. 
Bangunan Kantor
Papan petunjuk arah objek wisata ada, tetapi tidak ada informasi jarak. Padahal informasi jarak sangat penting karena akan menjadi petunjuk yang mencegah pengunjung tersesat. Contohnya kami waktu mencari jalan ke pasir putih yang terletak di pantai barat, setelah melewati jembatan ada dua alternative ke pasir putih, arah ke kanan atau ke kiri. Kami memilih belok ke kiri, mula-mula ada jalan setapak, tapi lalu tidak ada tanda jalan yang jelas, tanah berlumpur memasuki hutan dan bukit. Setelah sempat kami ikuti sekitar 200 meter, arahnya makin tidak jelas. Akhirnya kami kembali ke jembatan, lalu coba memilih arah jalan ke kanan, mula-mula memang jalannya tidak jelas, tapi lalu ketemu jalan memutar dan mendaki, akhirnya setelah sekitar 200 atau 300 meter sampailah di lokasi pasir putih.

Penunjuk arah

Jalur Tracking
Batu Kalde
Sekitar 200 meter menyusuri taman wisata, sampailah di lokasi situs Batu Kalde. Di situs tersebut terdapat batu berbentuk sapi gumarang yang merupakan tempat bersembahyang umat hindu pada zaman Kerajaan Pananjung. Terlihat  reruntuhan candi dengan arca sapi serta lima buah makam kuno. Makam kuno tersebut diperkirakan merupakan makam para pembesar Kerajaan. Disebut batu Kalde karena arca sapi berukuran sekitar 1 x 0,6 m2  dengan tinggi 0,5 m tersebut mirip dengan kijang yang dalam Bahasa Sunda disebut kalde. Batu Kalde tersebut konon merupakan nisan seorang menteri kerajaan yang bernama Arya Sapi Gumarang.

Batu Kalde
Selepas situs Batu kalde, perjalanan menyusuri jalur track dilanjutkan. Kami melewati Gua Lanang, Gua Jepang dan Wisma Ciborok. Di sekitar Wisma terdapat banyak pepohonan dan sekawanan rusa sedang memakan rumput. Selanjutnya kami menyeberangi jembatan menuju lokasi pantai pasir Putih. Jembatan di atas sungai tersebut memiliki konstruksi yang sangat bagus, namun terlihat lusuh, padahal kalau dicat dan dirawat akan sangat indah. Jembatan tersebut juga tidak memiliki nama. Padahal nama yang menarik sangat perlu untuk menambah daya tarik jembatan yang bagus tersebut. Misalnya bisa saja diberi nama “Jembatan Cinta” seperti di pulau Tidung, Kepulauan  Seribu. Atau dapat diberi nama “Jembatan Pelangi” (rainbow bridge) karena bentuknya yang melengkung seperti pelangi. Dengan bentuk yang indah serta nama yang unik pasti jembatan tersebut akan menjadi spot yang menarik untuk berfoto-foto.

Jembatan Batu
Gua Jepang
Setelah melewati jembatan batu, kami sempat “tersesat” karena memilih arah kiri. Namun kemudian kami kembali ke jembatan dan memilih arah kanan. Kami menyusuri jalan kecil yang menanjak dan akhirnya sampai di lokasi pantai Pasir Putih. Sebelum sampai di Pasir Putih, terdapat bukit dimana terdapat Gua Jepang. Jadi di lokasi Pananjung terdapat beberapa lokasi Gua Jepang. Gua terbentuk dari beton yang tertimbun tanah sebagai benteng pertahanan, dan berfungsi sebagai gudang amunisi. Pada bagian depan gua terdapat parit-parit  pertahanan untuk pengintaian pendaratan dari laut oleh pihak sekutu.

Gua Jepang

Pemandangan dari bukit Gua Jepang
Gua jepang yang berlokasi di dekat pasir putih tersebut merupakan tempat yang sangat baik jika dijadikan menara pandang, pemandangan dari atas bukit tersebut sangat indah karena kita bisa melihat pantai pasir putih, laut serta pantai barat pangandaran. Namun pada saat ini kita harus sangat berhati-hati saat mengambil foto karena tidak terdapat pagar pengaman. Juga banyak pohon dan dedaunan yang menghalangi pandangan laut dan pantai. Kalau tempat itu dirapihkan, diberi pagar pengaman, serta pembersihan sekitar Gua Jepang, maka tempat itu akan menjadi lokasi yang sangat istimewa.

Pantai Pasir Putih
Pada lokasi yang bersebelahan dengan bukit yang menjadi tempat Gua Jepang, terdapat Pantai Pasir Putih dengan pasirnya yang bersih, gelombang laut yang kecil serta pemandangan indah. Selain dapat dicapai dengan menyusuri cagar alam, wisatawan biasa mengunjungi lokasi ini dengan perahu motor dari lokasi Pantai Barat Pangandaran. Di tempat ini para wisatawan dapat bermain air di pasir serta berjalan-jalan berkeliling. Rombongan wisatawan dengan perahu bermotor biasa singgah selama satu atau dua jam di tempat ini, menikmati pasirnya yang putih, bermain bola, berenang, ataupun bermain pasir.

Pantai Pasir Putih

Pantai Barat sebagai latar belakang
---------------------------------------------------

Sabtu, 16 Juli 2016

TEMPAT WISATA DI KARIMUNJAWA


Silahkan Klik Topik Lainnya :

Kegiatan Lingkungan dan Fakultas Teknik,  Wisata Padang Sumatra Barat,  Umroh Makkah Madinah,  Wisata Singapore,  Wisata Phuket Thailand,  Wisata Karimunjawa,  Wisata Malang Bromo,  Wisata Ende Flores,  Wisata Tidung Kepulauan Seribu,  Wisata Pangandaran,  Wisata BandungWisata Malang Batu,  Wisata Melaka Kuala Lumpur

Karimunjawa adalah nama sebuah kepulauan yang terletak di kabupaten Jepara.  Kepulauan yang terletak di pesisir pantai Utara Jawa Tengah tersebut telah ditetapkan sebagai Taman Nasional  dengan hamparan pasir putih dipantai , air laut yang jernih serta terumbu karang. Deburan air laut yang jernih, angin sepoi-sepoi dan kondisi pulau dan pantai yang alami. Sangat menyenangkan dan membuat betah pengunjung. 
Keunggulan tempat wisata Karimunjawa disamping wisata pantai dan lautnya yang mempesona, juga terdapat objek wisata di darat yang menarik untuk dikunjungi dengan jarak tidak berjauhan. Dengan demikian para pengunjung dapat sekaligus menikmati berbagai lokasi wisata air laut, pantai dan jelajah di darat dalam satu kali perjalanan.
Halo Karimunjawa
Berikut adalah tempat wisata menarik di kepulauan Karimunjawa yang dapat dikunjungi untuk mengisi waktu berlibur anda : 

1.     Pulau Menjangan Besar
Pulau Menjangan besar merupakan lokasi wisata yang cocok untuk memacu adrenalin atau menguji keberanian anda. Di pulau yang merupakan lokasi penangkaran ikan hiu, selain dapat menonton ikan-ikan hiu hilir mudik di dalam kolam, jika berani pengunjung juga dapat ikut berenang bersama ikan-ikan buas tersebut.
Di pulau Menjangan besar juga terdapat berbagai kolam dengan satwa-satwa laut yang beraneka macam. Pengunjung dapat masuk ke kolam dan berfoto dengan kura-kura, ikan buntal, ikan hiu pari serta bintang laut. Untuk berenang bersama di kolam dengan ikan-ikan hiu biayanya Rp 15.000,- per orang. Sedang berenang dan berfoto dengan kura-kura, ikan buntal, ikan hiu pari dan bintang laut, biayanya Rp 3.000,-.
Berenang bersama hiu
Dengan bintang laut



2.     Pulau Menjangan Kecil
Pulau Menjangan Kecil adalah pulau kecil yang dipisahkan oleh sebuah selat dengan lebar antara 2 sampai 3 km dari pulau Menjangan besar. Di tepi pantai pulau menjangan kecil tersebut wisatawan dapat melakukan aktivitas snorkeling melihat keindahan terumbu karang dan ikan-ikan laut.
Kenapa nama pulau tersebut menjangan besar dan menjangan kecil ? konon dahulu pulau tersebut banyak dihuni oleh menjangan. Menjangan atau rusa tersebut berenang dari satu pulau ke pulau lain untuk mencari rumput yang sedang hijau. Saat ini pulau menjangan besar merupakan pulau berpenghuni dan menjadi tempat penangkaran hiu dan ikan lain, sedang pulau menjangan kecil merupakan salah satu dari 22 pulau tidak berpenghuni di Karimunjawa.
Terumbu karang

Snorkling

3.     Pulau Cemara Kecil
Pulau Cemara Kecil berjarak sekitar 12 km dari Menjangan kecil. Jarak tersebut ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit dengan perahu motor. Pulau Cemara kecil hanya pulau kecil dan tidak berpenghuni. Namun pada siang hari pulau tersebut biasanya sangat ramai dengan berbagai perahu dan wisatawan yang singgah. Pulau Cemara kecil memang biasa dipakai untuk tempat beristirahat siang dan makan siang. Umumnya setiap perahu membawa bekal nasi serta ikan segar. Di pulau tersebutlah tempat untuk berkumpul istirahat , serta mempersiapkan makan siang dengan membakar ikan-ikan yang telah dibawa.
Pulau Cemara kecil cocok sebagai tempat beristirahat karena pantainya yang bersih, putih dan landai. Disamping menjadi tempat beristirahat dan makan siang, wisatawan dapat berkeliling pantai, berfoto-foto, serta berenang. Di pulau Cemara Kecil juga warung-warung yang menyediakan minuman kelapa muda, kopi atau mi instant. Satu kelapa muda utuh dan segelas kopi dibandrol seharga Rp 20.000,-.
Merapat di Cemara Kecil

4.  Tanjung Gelam
Tanjung gelam merupakan pantai yang masih terletak di pulau utama Karimunjawa terkenal ombak yang kecil dan pantai berpasir putih. Di pantai tersebut cukup banyak perahu wisatawan yang merapat untuk bermain air,  berenang atau sekedar berjalan-jalan. Tanjung Gelam juga merupakan tempat yang indah untuk diabadikan mengambil foto-foto.
Salah satu spot yang banyak diabadikan dan menjadi favorit adalah pohon kelapa miring. Biasanya rombongan berfoto dengan beberapa orang memanjat pada kelapa miring tersebut. Sedangkan seorang berdiri dibawahnya, mengangkat  tangan, seolah-olah mengangkat pohon kelapa dengan orang-orang di atasnya.
Di pantai Tanjung Gelam terdapat jongko-jongko yang menjual gorengan, kopi, mi instan dan kelapa muda. Jongko-jongko tersebut banyak diserbu wisatawan yang beristirahat dan menikmati suasana pantai yang indah.

Pantai Tanjung Gelam

Pohon kelapa miring

5.  Bukit Joko Tuwo
Joko Tuwo adalah julukan yang diberikan kepada seekor ikan paus yang pernah terdampar di pulau Karimun Jawa. Kerangka ikan paus yang panjangnya sekitar 7 meter tersebut kemudian dikumpulkan dan diletakkan ke sebuah bukit yang selanjutnya disebut Bukit Joko Tuwo.
Bukit tersebut terletak di ketinggian pulau karimunjawa. Dari tempat ini kita dapat melihat keindahan pelabuhan, daerah permukiman, pulau dan laut yang terletak di sisi Barat pulau karimunjawa seperti menjangan besar dan menjangan kecil. Bukit tersebut merupakan tempat ideal untuk menikmati indahnya matahari terbenam (sunset).
Kerangka Joko Tuwo

Pemandangan dari bukit Joko Tuwo

6.  Bukit Love
Bukit Love , adalah suatu spot yang juga terletak di ketinggian pulau Karimunjawa. Dari bukit tersebut dapat dilihat pemandangan pulau karimunjawa secara luas. Kekhususan bukit tersebut adalah tugu dengan tulisan “Love” untuk tempat mengambil foto dengan latar belakang tugu dan perbukitan. Bukit ini terletak di dusun Jati Kerep. Lokasi tugu “Love” tersebut menjadi favorit  untuk tempat berfoto serta tempat melihat sunset pada sore hari.
Bukit Love

7.  Tracking Mangrove
Di Karimunjawa kita juga dapat menikmati wisata menyusuri hutan mangrove (tracking mangrove). Lokasi tracking hutan mangrove ini dapat dicapai lewat jalan darat dari desa Karimunjawa (ibukota Kecamatan) dengan jarak sekitar 15 km arah ke Utara dan waktu tempuh kendaraan bermotor setengah jam. Lokasi tracking mangrove sebenarnya terletak pada pulau yang berbeda dengan pulau Karimunjawa, yaitu pada pulau Merician. Namun kedua pulau ini hanya dipisahkan oleh jembatan sepanjang sekitar 10 meter dan banyak ditumbuhi mangrove, sehingga tidak terlihat sebagai selat.
Untuk menikmati wisata tracking, dibangun jalan yang terbuat dari papan untuk menelusuri hutan mangrove. Di ujung jalur yang penuh dengan pohon mangrove sepanjang sekitar satu kilometer, terdapat tempat yang lebih terbuka dan berada didekat pantai. Di tempat tersebut dibangun menara kayu yang bertingkat empat untuk tempat memandang panorama sekitar. Dari menara kayu yang sangat indah tersebut kita dapat melihat jauh baik kearah laut,bukit, pantai atau gunung.
Track Mangrove

Menara pandang

-------------------------------------------------


Senin, 11 Juli 2016

TEMPAT WISATA DI BUKITTINGGI DAN SEKITARNYA

Wisata Sumatra Barat lainnya : Lembah Harau dan Kelok Sembilan Lembah Anai Padang Bukittinggi ,  Ngarai Sianok dan Lobang Jepang , Istana Pagaruyung dan Danau Singkarak

Silahkan Klik Topik Lainnya :
Kegiatan Lingkungan dan Fakultas Teknik,  Wisata Padang Sumatra Barat,  Umroh Makkah Madinah,  Wisata Singapore,  Wisata Phuket Thailand,  Wisata Karimunjawa,  Wisata Malang Bromo,  Wisata Ende Flores,  Wisata Tidung Kepulauan Seribu,  Wisata Pangandaran,  Wisata BandungWisata Malang Batu,  Wisata Melaka Kuala Lumpur

Bukittinggi merupakan kota yang menjadi favorit bagi wisatawan di Sumatra Barat. Kota ini menjadi destinasi wisata yang terkenal karena hawanya yang sejuk serta adanya berbagai tempat wisata yang menarik. Pendukung lain dari terkenalnya kota ini sebagai tujuan wisata adalah adanya akses transportasi yang sangat baik. Dari kota Padang ,ibukota Propinsi Sumatra Barat, jaraknya 91 km dengan jalan raya yang mulus. Sedangkan dari Bandara Internasional Minangkabau jaraknya malah lebih dekat lagi yaitu sekitar 70 km.
Dengan jarak dari Bandara yang relative dekat, maka kunjungan wisatawan dari seluruh Indonesia ke Bukittinggi cukup banyak. Demikian juga wisatawan dari Negara tetangga seperti Malaysia. Pengunjung yang juga rutin dan banyak mengunjungi Bukittinggi adalah dari Pakan Baru. Jarak Pakan Baru Bukittinggi sekitar 200 km dan dapat ditempuh dengan mobil dalam waktu 5 jam, jadi masih dapat ditempuh lewat darat dari ibukota propinsi Riau tersebut.
Berikut adalah tempat wisata populer di kota Bukittinggi dan sekitarnya yang dapat dikunjungi jika anda berwisata ke Sumatra Barat  :

1.  Air Terjun Lembah Anai
Air terjun Anai kira-kira terletak pada kilometer 60 jalan raya Padang-Bukittinggi. Jadi dari Bukittinggi jaraknya sekitar 40 km. Biasanya wisatawan mengunjungi Air terjun Lembah Anai saat perjalanan dari Bandara ke Bukittinggi, karena jaraknya dari Bandara hanya sekitar 40 km. Atau sebaliknya dalam perjalanan pulang menuju Bandara.  Lembah Anai sangat terkenal dengan air terjun yang indah serta sungai Batang Anai.
Air terjun lembah Anai ini sangat istimewa karena benar-benar terletak di pinggir jalan antara 2 kota terbesar di Sumatra Barat tersebut. Suatu hal yang sangat jarang kita temui. Biasanya lokasi air terjun jauh dari jalan raya, bahkan sering harus berjalan kaki cukup jauh. 
Yang menarik, dari sisi air terjun tersebut , kita bisa melihat rel kereta api kereta api yang membentang tepat di  atas jalan. Jembatan kereta api tersebut adalah rel kereta api yang menghubungkan Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, sampai ke Sawahlunto.  Pemandangan jembatan kereta api dengan latar belakang lembah Anai yang sangat indah itu sering menjadi hiasan kalender.

Air terjun

Jembatan dan jalan kereta api
2.  Jam Gadang
Jam gadang atau jam besar adalah sebuah bangunan bersejarah yang terletak di tengah-tengah kota Bukittinggi. Menurut sejarahnya, bangunan jam gadang ini dibangun sekitar tahun 1826. Bangunan tersebut mempunyai tinggi sekitar 26 meter dan pada keempat sisinya terdapat jam berukuran besar. Lokasi di sekitar Jam Gadang merupakan objek wisata utama di kota Bukittinggi dengan diperluasnya taman di sekitar bangunan menara jam ini. Taman tersebut menjadi tempat wisatawan serta masyarakan menikmati keindahan kota Bukittinggi. Di sekeliling taman jam gadang tersebut terletak pasar atas kota Bukittinggi, tempat penjualan berbagai barang, mulai dari keperluan sehari-hari sampai souvenir khas Bukittinggi atau Sumatra Barat.

Jam Gadang

3.  Pasar Bukittinggi
Pasar atas kota Bukittinggi merupakan lokasi wisata belanja yang tidak pernah dilewatkan oleh para pengunjung dari luar kota atau mancanegara. Di tempat itu dijual berbagai barang, mulai dari keperluan sehari-hari sampai souvenir khas Bukittinggi atau Sumatra Barat. Barang paling banyak dicari oleh wisatawan adalah pakaian dengan bordir khas Sumatra Barat. Biasanya pada akhir pekan para wisatawan ramai mengunjungi pasar tersebut.  Dari Padang serta berbagai daerah berbondong memenuhi jalan raya Padang Bukittinggi. Pengunjung yang juga banyak mengunjungi Bukittinggi adalah dari Pakan Baru.
Sementara dari Mancanegara banyak berkunjung wisatawan Malaysia. Jadi tidak aneh kalau di pasar atas itu para pedagang sering menyapa dan menawarkan dengan Bahasa Melayu dan logat Malaysia. Wisatawan Malaysia menjadi target yang potensial dalam memasarkan berbagai pernik dan busana muslim.

4.  Ngarai Sianok
Ngarai Sianok adalah suatu jurang sedalam 100 meter, lebar 200 meter dan membentang sepanjang 15 kilometer dengan liku-liku sungai batang Sianok mengalir dibawahnya. Dengan latar belakang Gunung Merapi dan Singgalang. Ngarai yang terletak di sisi kota Bukittinggi tersebut merupakan suatu lembah yang sangat indah, hijau dan mempesona.
Dari sisi geologi, Ngarai atau jurang  Sianok terbentuk akibat patahan yang memisahkan Pulau Sumatra menjadi dua bagian (Patahan Semangko). Patahan Semangko tersebut secara menakjubkan membentuk dinding dan jurang yang sangat curam, bahkan tegak lurus , yang indah, subur dan hijau.
Untuk dapat menikmati indahnya Ngarai Sianok, lokasi terbaik adalah dari Taman Panorama. Taman Panorama merupakan taman yang letaknya tidak jauh dari Jam Gadang atau pusat kota Bukittinggi. Dengan jarak yang hanya sekitar 300 meter dari Jam Gadang, kita dapat mencapainya dengan berjalan kaki. Dari taman yang dibangun di bibir ngarai tersebut kita dapat melihat sensasi pemandangan yang sangat menakjubkan. Apalagi di taman tersebut juga dibangun menara pandang setinggi kira-kira 30 meter. Sehingga wisatawan dapat melihat lebih luas lagi pemandangan Ngarai dan kota Bukittinggi dari atasnya.

Ngarai Sianok
Istana Bung Hatta atau Gedung Triarga merupakan tempat yang penuh dengan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia.  Pada tahun 1947 gedung tersebut digunakan sebagai Pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Gedung tersebut diberi nama Istana Bung Hatta untuk mengenang Bung Hatta sebagai Wakil Presiden pertama dan Proklamator Kemerdekaan Indonesia bersama Bung Karno.
Lokasi gedung ini sangat dekat dengan pusat kota dan taman Jam Gadang, serta terletak di jalan yang sama dan berseberangan dengan Taman Panorama.

Istana Bung Hatta
6.  Lobang Jepang
Lobang Jepang, atau terowongan (bunker) perlindungan tentara Jepang, dibangun oleh Jepang pada tahun 1942 untuk keperluan pertahanan pada Perang Dunia II. Menurut informasi, lobang atau terowongan tersebut memiliki ukuran diameter sekitar 2 meter dan panjang 1.470 meter. Dengan dua mulut terowongan, yang satu mengarah ke ngarai Sianok dan yang lain  mengarah ke tengah kota Bukittinggi. Fungsinya selain tempat perlindungan dari serangan bom tentara sekutu, juga berfungsi untuk mengawasi pergerakan di luar.
Untuk masuk ke lobang Jepang pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp 5.000,- per orang untuk hari biasa, sedang pada hari libur taripnya Rp 6.000,- .

Lobang Jepang
-------------------------------------------------------------------